SD & SLTPSekolah MenengahPerguruan TinggiKomputer / InternetLowongan & SDMPerkembangan SekolahPendidikan Network

Disini Anda dapat bersuara mengenai hal-hal pendidikan,   berkomunikasi dengan teman-teman dan kolega di dunia pendidikan,   menulis Aspirasi Anda terhadap pendidikan,   &    dapat memasang Berita Sekolah Anda untuk teman-teman.
Perkumpulan Sektor Pendidikan
Klipping Saran dari SuaraKita.Com, Korupsi.Org, Aspirasi.US The Voice of Indonesian Educators and Learners Klipping Saran dari SuaraKita.Com, Korupsi.Org, Aspirasi.US
Klipping dari Saran SuaraKita.Com, Aspirasi.US dan Korupsi.Org
Setiap hari kami menerima banyak saran baru di Pendidikan Network, SuaraKita.Com, Aspirasi.US, dan Korupsi.Org. Sebagai FAQ (Pertanyaan yang Sering DiTanyakan) kami sudah membuat bagian KLIPPING ini.

Mutu Pendidikan

Nama: wardani lubis
Dari: medan/sumut
Saya: Masyarakat medan
Aspirasi / Informasi: saya harap guru-guru dinegara ini lebih meningkatkan kualitas pendidikan siswa, terutamanya pendidikan moral bagi siswa/i dibangku sekolah. ini sangat berguna melihat kondisi negara kita yang tak stabil.

Kapan masyarakat negara kita mau mulai mencontohkan moral yang baik supaya anak kita melihat yang maksudnya "moral"
Kita tidak dapat berhasil mengajar supaya anak kita "moral" kalau lingkungan masih mau melayani koruptor.
Salam hormat, Webmaster

E-mail Pengirim: beyonce_loebis@hotmail.com
Tanggal: 19/08/2004


Luar Biasa! - Arancha Shinta (Usia 11 Tahun)

Nama: Arancha Shinta
E-Mail: aranchashinta@yahoo.com
Saya dari PCI Blok C 5 no 3 , Cilegon dan saya 11 [ W ].
Sekolah saya: SMPN 1 Cilegon
Di daerah: Cilegon
Propinsi : Banten
Hobi saya: Makan , baca buku , bikin komik , mengarang (baik novel atau cerpen) , browse Internet dan Main games
Saran: Wuh , kenapa sih ? Kenapa sih mesti ada KBK ?
Sumpah , saya terganggu . Katanya sih , sistem ini membantu anak anak agar lebih aktif dalam belajar.

Tapi buktinya, saya tanyakan ke teman teman baik dari dalam sekolah , maupun luar sekolah , teman teman saya bilang kalau KBK ini bikin anak jadi bodoh .

Kenapa ? Karena kita kita cuma disuruh baca, dan lalu dijelasin seupritnya . Hih , nggak mau deh .

Kalo gitu , ngapain ada guru ?
Kalo gunanya cuma duduk dan menjelaskan seuprit .Huh , bete banget . Nggak mau deh ..

Saya lebih kepingin kalo sistemnya kembali ke jaman daulu , sistem kurikulum 1994 . Lebih enak aja gitu .

Anak jadi lebih ngerti . Jadi lebih mudah menguasai . Tapi kalo KBK , misalnya ada tugas kelompok , pasti ada aja yang enggak kerja . Soalnya belon ngerti dengan bener .

Mending pemerintah ngerubah lagi sistemnya . Atau mungkin , materinya kayak sekarang , tapi guru gurunya bisa menerangkan gitu .

Susah , kalo dari esde saya udah dibiasain diajarin dengan jelas sama guru ampe ngerti . Kalo mau jangan dari esempe dong . Dari pertama masuk SD , harusnya udah KBK . Jadi nggak kagok .

eeh , begitu saya lulus SD , SD saya mulai KBK . Nggak ADILL !!!!

Tapi saya berharapnya , sistem belajarnya diubah gitu loh . Atau bikin yang baru . Coba kalo anaknya males , pasti nggak bakal naek kelas . Hii .. NO WAY ! Kadang saya sebel sama anak anak kelas 2 dan 3. Mereka masih belon KBK . Masih kurikulum 1994 .

Saya yang kelas satu kan terganggu ..

Bukannya saya males ya (mungkin iya , saya males :P) , tapi hampir semua anak setuju kalo KBK tuh diubah !

Saya udah mensurvei , dan hasilnya seperti itu ..

Apa bener semua anak itu males males ?

NGAKU !!

Hai Arancha Shinta
Salut dari Pendidikan Network! Sayang tidak ada lebih banyak orang seperti anda (termasuk dosen) yang berpikir secara dalam dan berani menyampaikan saran begini (Anda umur 11 tahun - hebat!).
Sebenarnya KBK itu bagus dan sangat menguntungkan - sabar saja! Tetapi, cara melaksanakan memang belum begitu jelas buat guru, apa lagi siswa. Di atas, anda campurkan dua hal yaitu 1. KBK dan 2. PAKEM. Mungkin hal-hal ini jadi lebih jelas kalau anda mampir ke http://MBEProject.Net.
Jangan kuatir, proyek ini tidak berbau seperti proyek-proyek zaman dulu, tujuannya meningkatkan mutu pendidikan, bukan mengisi kantong orang tertentu.
Kami juga bikin forum di http://SuaraKita.Com
Kami perlu orang seperti anda sebagai Presiden Indonesia (yang berpikir dan peduli pendidikan).
Salam Hormat, Semoga Sukses dan Selamat Berjuang.
Phillip R., Webmaster
(Ref: http://sltp.net/banten.html)
Tanggal: 5 September 2004


Nama: Anom Pramana
Dari: DIY
Saya: Siswa DIY
Aspirasi / Informasi: Sistem pendidikan di Indonesia harus segera direvolusi. Jika tidak tahun 2010 nanti Indonesia akan menjadi negara penghasil buruh terbesar di dunia.
E-mail Pengirim: pram_14@yahoo.com

Terima kasih
Memang harus ada perubahan, tetapi sistem bukan masalahnya - mengganti sistemnya 1.000 kali juga hasilnya sama. Masalahnya bukan sistemnya tetapi orang-orang yang melaksanakannya. Pendidikan menerima 5% dari anggaran negara, tetapi korupsi memakan lebih dari 30% dari anggaran negara.
Kalau SDM yang mengelolah negara dan pendidikan di negara ini memakai sistem yang mana saja hasilnya sama - kalah. Ini krisis kejujuran! Siapa lagi yang akan memaksa mereka bertanggungjawab dan jujur kalau bukan anda (masyarakat)?
Salam Hormat dan Selamat Berjuang
Webmaster

Tanggal: 11


Nama: Abdillah Hanafi
Dari: Malang/Jatim
Saya: Dosen UM
Saran: Dalam menghadapi setiap inovasi (saya pandang MBS dan KBK adalah inovasi) yang diperkenalkan oleh pemerintah, atau siapa saja, seharusnya kita tidak apriori. Kita mestinya kaji secara seksama inovasi itu, coba dulu dalam skala kecil, evaluasi hasil uji coba, baru kita kasih komentar dan saran.

Penerapan inovasi yang tidak tepat, akan mengurangi keberhasilan, dan itu menyebabkan kecewa, lalu langsung saja menyalahkan inovasinya.

Tidak setiap inovasi harus diterapkan, karena yang lama mungkin masih baik (sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah dan daerah)
E-mail Pengirim: wanabid@telkom.net

Terima kasih Abdillah Hanafi
Saya sangat setuju dengan proses "uji coba", tetapi KBK suda diuji coba dan sudah berhasil di banyak negara jadi saya merasa tidak perlu diuji coba lagi. Dokumentasi hasilnya juga sudah banyak sekali. Apa lagi KBK dibanding dengan "Kurikulum Asal Hafal Saja" (KAHS) sudah terbukti. Kami sudah menyaksikan bahwa kemandirian anak dan kemampuan anak dalam kreativitas dan inovasi sudah rendah.

Yang bermasalah adalah Kurikulum dan kompetensi-kompetensi sendiri yang mungkin kurang tepat dan jelas - perlu diperbaiki. Juga persiapan kepala sekolah dan guru untuk pelaksanaan di lapangan sangat kurang.
Salam Hormat dan Selamat Berjuang
Webmaster

Tanggal: 12-09-04


Name: joko
Saya: Wartawan dari Media Otonomi
E-Mail: moh_abdurrahman@plasa.com
Type of Input: Pendidkan

Comments:
Permasalahan yang sistemik, saliong terkait satu dengan yang lain tentu memerlukan jawaban penyelesaian yang sistemik pula. seperti halnya seorang dokter yang mendiagnosa pasiennya, ia perlu mencari tahu penyebab sakit si pasien. Jika kita amati, pendidikan kita tidak lepas dari politik, ekonomi, sosial, budaya, semua itu bagian dari pendidikan kita. Mana yang menjadi penyebab rusaknya semua pendidikan kita? karena kita tidak menggunakan sistem yang benar, tapi sistem yang jauh dan bertentangan dan dengan sifat dasar kita. sistem tersebut sengaja di sebarkan oleh orang-orang barat. yuk cari tahu mana sistem yang benar...:) yang jelas bukan pula kapitalis.

Terima kasih atas sarannya.
Saran Webmaster: Sebenarnya, sistem bukan masalah, masalahnya adalah pemerintah yang tidak anggap pendidikan penting (<5% ABN), korupsi yang terus menghabiskan kekayaan negara kita, dan koruptor yang hanya berpikir keuntungan mereka sendiri dengan rakus yang tanpa batas.
Padahal, negara barat, dan sistem kapitalis sangat menghagai pendidikan (biasanya bermutu dan gratis atau sangat murah untuk masyarakat), melihat sendiri. Masalahnya memang SDM, kejujuran dan kepedulian di negara kita sendiri.
Salam Hormat & Selamat Berjuang
Webmaster

Date: 9/10/04


Nama: novianti
Dari: bekasi
Saya: Mahasiswi UNJ
Saran: bagaimanakah kaitan antara pembelajaran KBK dengan CTL (contextual teaching and learning)???
E-mail Pengirim: viandriy_scp@yahoo.com
Tanggal: 14 oktober 2004

KBK adalah jenis kurikulum, CTL adalah carannya kita menyampaikan kurikulumnya. CTL (PAKEM - Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenankan). Salam dari Webmaster

Name: hafis aulia rahman
Saya: Masyarakat dari bengkulu
E-Mail: regan_bkl@yahoo.com
Type of Input: Pendidkan

Comments:
pendidikan merupakan faktor krusial dalam membangun bangsa Indonesia saat ini. permasalahan kompleks yang sedang kita hadapi saat ini merupakan penyakit kangker yang hempir mencapai stadium 4 dan nyaris tak tertolong jika tidak ada follow up dari berbagai pihak terutama pemerintah, murid, guru dan pihak-pihak lain yang terkait.

pendidikan haruslah berorientasi pada seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial yang disandang orang tua mereka. subtansi pendidikan juga harus mendapat sorotan dari berbagai pihak yang terkait. pendidikan tidak sebatas pada tranfer of knowledge melainkan bagaimana seorang pendidik dapat memberikan pesan moral kepada anak didiknya, sehingga diharapkan mampu menciptakan generasi yang handal tidak hanya dibidang ilmu pengetahuan saja melainkan di segi moral. kami menaruh harapan besar kepada pemerintah

Terima kasih.
RE: "memberikan pesan moral kepada anak didiknya"
Memang enak kalau "moral" dapat diajarkan segitu gampang, tertapi anak kita, seperti kita sendiri, belajar moral dari lingkungan kita dan selama kita melakukan atau terima yang tidak benar (keluarga kita dan pemerintah kita) mereka tidak akan begitu dipengarui dari pendidikan formal, termasuk agama. Memberantaskan korupsi dan membenarkan hukum di Indonesia, baru ada kesempatan.
Salam hormat, Webmaster.

Date: 9 Desember 2004


Nama: dani hendra
Dari: bandung
Saya: Mahasiswa upi
Saran: saya tidak mengerti dengan bangsa ini, ceritanya mo mencerdaskan kehidupan bangsa, eh...kenyataannya malah melepaskan tanggung jawab (sedikit tanggung jawab). lenin saja tokoh komunis berkata bahwa negara harus menghemat anggaran negara kecuali dalam hal atau bidang'pendidikan'. bangsa Indonesia tercinta ini bangsa yang kaya akan segala-galanya, dan akan mampu meningkatkan mutu pendidikan masyarakatnya, masa kita kalah ama negara vietnam yang merdekanya saja duluan kita.

mari kita semua berdoa semoga pemerintahan yang baru terbentuk ini dapatdiberikan jalan yang terang oleh 4JJI swt, dan diberikan kesadaran bahwa pendidikan itu merupakan barang yang penting dan sangat berharga demi kelangsungan hidup bangsa Indonesia yang lebih cerah lagi. amin.....
E-mail Pengirim: dani_valentinik@plasa.com

Saran Webmaster
Berdoa itu baik, tetapi Indonesia adalah negara yang termasuk paling sering berdoa di dunia, karena negara ini yang mayoritas Islam, yang berdoa paling sedikit 5 kali sehari, yang paling besar di dunia, berarti rakyat Indonesia termasuk yang paling sering berdoa di dunia. Mengapa negara ini termasuk yang paling korupt dan membagi anggaran buat pendidikan yang sangat rendah? Mengapa dapat jadi begini?

Dengan sesuatu yang di luar jangkauan kita (misalnya cuaca), kita hanya dapat berdoa saja.

Dengan hal seperti korupsi dan pendidikan, dua-duanya ada di tangan kita dan kalau kita sendiri tidak berusaha, yang jahat (yang juga berdoa) akan menang. Siapa yang mau membantu orang atau negara yang tidak mau membantu diri sendiri?
Apakah, Tuhan mau?


Kita sendiri (rakyat Indonesia) yang bertanggungjawab untuk korupsi dan pendidikan rendah dan mahal di negara ini karena kita diam (dalam berusaha).

Pemerintah adalah karyawan kita. Kalau karyawan kita mencuri dan kita diam saja, apa lagi senyum saja (tidak protes) - mereka (pemerintah) akan mencuri terus (senyum kita berarti kita setuju).

Rakyat Indonesia pilih saja:

Masa depan bangsa (dan cucu bangsa) ada di tangan kita (Rakyat Indonesia - Pemilik Indonesia)!!!
Bukan yang berkuasa sementara!!!

Kalau karyawan kita mencuri - di hukum dan diganti dengan yang mau bertanggungjawab! Yang tidak berhasil diganti secepat mungkin!


Salam Hormat dan Selamat Berjuang!
Phillip R., Webmaster
Tanggal: 22 desember 2004


Nama: Mukhtaruddin Tata Saputra
Dari: Yogyakarta
Saya: Mahasiswa Yogyakarta
Aspirasi / Informasi: Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi telah membawa begitu banyak perubahan dalam kehidupan kita, khususnya bidang pendidikan. Segala fasilitas dan sarana pendukung yang begitu mudahnya diperoleh oleh siswa, cenderung membuat siswa saat ini mengalami penurunan motifasi untuk belajar.

Kenapa bisa begitu? Coba kita lihat pelajar pada era 60 an, hanya dengan berjalan kaki dan tanpa sepeser uang pun di kantong, mereka dengan begitu bersemangatnya untuk mengenyam pendidikan di bangku sekolah, bahkan ketika ujian tiba, mungkin hanya sebuah lentera kecil yang menemani mereka membuka lembar-demi lembar buku-buku pelajaran. Tapi pelajar saat ini, dengan kendaraan-kendaraan terbaru dan uang penuh di kantong mereka dengan enaknya nongkrong di Mall di saat jam sekolah. Belum lagi ditunjang dengan berbagai macam fasilitas yang modern, akan tetapi mereka seakan justru labih suka nongkrong di Mall, atau bermain game online, atau bahkan "Ngedugem" dari pada menimba ilmu di bangku sekolah.

Sebuah ironi memang, ketika segala fasilitas yang memberikan begitu besar peluang bagi pelajar untuk maju dan berkembang, tapi justru disia-siakan. Untuk itu saya mengajak, marilah kita bersama-sama mensyukuri dan memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang telah kita peroleh, janganlah kita justru terlena dan takabur. Tak akan ada yang bisa merubah nasib kita, selain kita sendiri. Apabila banyak salah saya mohon maaf.Terima kasih.
E-mail Pengirim: nihamba_putra@plasa.com

Terima kasih,
RE: "Coba kita lihat pelajar pada era 60 an"
Bagaimana kita dapat melihat "pada era 60 an"?

  • Kita harus sangat hati-hati dengan info mengenai yang lalu! Dari siapa? Yang menyampaikan info punya tujuan apa? Sering orang tua kita suka omong begitu, dan tujuannya baik, tetapi kenyataanya???

    Misalnya, saya sendiri ingat bahwa waktu saya lagi kuliah tahun 1966 Jurusan Elektro, saya punya 2 sehabat dan kami sering secara bergiliran begini; satu teman ke kampus mencatat tugas kuliah sambil dua teman main biliard. Kemudian tugas kuliah di fotokopi dan dibagi.

    Memang ini tidak baik, tetapi kita juga harus bertanya mengapa jadi begini? Apakah ikut kelasnya memberi sesuatu yang kita menghargai yang kita tidak dapat mengerti kalau membaca buku atau fotokopi? Apakah, kelasnya hanya "ritual" saja?

    Sekarang, seperti dulu tergantung orangnya sendiri, apa lagi dynamics pelajarannya, dan "relevance pelajarannya" bagi kita!

  • Cara menyampaikan pelajaran adalah sangat penting (presentasi menarik atau tidak, dosennya peduli atau tidak, persiapan dosen untuk mengajar cukup baik atau tidak).

  • Tahun 1993-1996 saya kuliah lagi tetapi, "kuliah luar kampus", dan saya hanya ikut ke kampus 2 atau tiga minggu setahun dan saya heran, mengapa saya dapat prestasi yang sebagus atau lebih bagus dibanding mahasiswa yang ikuk ke kampus setiap hari? Kunci (menurut saya) adalah - bahan "kuliah luar kampus" (external) sangat diperhatikan (persiapan "preparation" jauh lebih bagus).

  • Menurut saya, "Uang di kantong" dan "teknologi" bukan hal yang perlu dibahas. Kalau kuliahnya menarik dan kita dapat melihat untungnya dan itu relevan buat kita sendiri, tidak akan ada masalah.

    Ayo, kita (mahasiswa/i) ke kampus semua dan kalau pelajarannya tidak menarik, sambil meningkatkan kemampuan, kreativitas dan kemandirian kita, ayo, kita bergerak untuk memperbaiki mutu pendidikannya, jangan membuang waktu kuliah ini yang sangat penting dan cukup mahal.
    Viva siswa/i dan mahasiswa/i di Indonesia!

    (Ref. saja) System PAKEM dan pengaruhi motivasi dapat dilihat di http://MBEProject.Net

Salam Hormat dan Selamat Berjuang!
Phillip R., Webmaster

Tanggal: 1 Januari 2005


Nama: yosep gobai
Dari: paniai/papua
Saya: Mahasiswa sekolah tinggi teknilogi adisujipto STTA yogyakarta
Saran: GURU SEBAGAI TENAGA PROFESIONAL
Berbicara tentang cita-cita anak-anak di masa sekarang tentu sudah akan berbeda dengan 20 bahkan 10 tahun yang lalu, dimana lebih banyak anak yang bercita-cita menjadi dokter, pengacara, maupun pilot. Kemudian dimana anak-anak memposisikan guru? Bukankah setiap hari mereka selalu berhadapan dengan guru mereka dan berinteraksi dengan mereka?

Berbicara mengenai guru, tentu yang akan terlintas dalam benak kita adalah gaji yang sedikit serta kualitas mereka. Jika kita sering memperhatikan berita-berita yang ada di surat kabar, cerita tentang nasib guru bukanlah cerita yang menyenangkan, akan tetapi cerita yang suram dan menyedihkan. Misalnya nasib guru kontrak yang ada di wilayah-wilayah pelosok Indonesia. Hal ini tentu dapat dijadikan refleksi bagi institusi penghasil guru serta pemerintah.

Ketika kondisi pendidikan di Indonesia semakin memprihatinkan, dimana biaya pendidikan semakin mahal, masyarakat menuntut kualitas pengajaran yang baik. Sebagaimana dikemukakan oleh Freire (2002), pendidikan harus melibatkan tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektisnya yang ajeg, yaitu pengajar, pelajar atau anak didik, serta realitas dunia, maka kita tidak dapat menyalahkan guru semata yang mungkin dinilai tidak qualified untuk mengajar, melainkan kita juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang lain yang mendukung kondisi pendidikan kita.

Peningkatan kualitas para guru memang masih dipertanyakan sampai sekarang ini. Fenomena yang ada di masyarakat menunjukkan bahwa banyak para sarjana di bidang non kependidikan mengambil alternatif program tambahan Akta IV atau program kependidikan guna mendapat sertifikat supaya dapat menjadi guru. Pada umumnya mereka mengambil alternatif Akta IV sebagai alternatif terakhir mengingat pekerjaan yang lain sangat sulit diperoleh. Bagaimana dengan kualitas mereka, benarkah mereka mampu menjadi guru sebagai tenaga profesional?

Terkadang manusia melihat suatu jenis pekerjaan berdasarkan prestigenya. Seperti menjadi dokter tentu masyakarat akan lebih menghargainya dibandingkan guru. Selain gaji yang berbeda, proses pembelajaran yang dijalani oleh calon dokter juga berbeda dengan calon guru. Sehingga sudah merupakan hal yang lumrah dimana gaji yang mereka peroleh di masa bekerjanya cukup besar yaitu seimbang dengan biaya yang dikeluarkan selama proses belajar untuk menjadi dokter.

Alangkah bahagianya para guru itu jika mendapatkan reward yang hampir sama dengan dokter. Mereka tidak harus terus mengemban label "pahlawan tanpa tanda jasa" bukan? Sebaiknya institusi penghasil guru perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) Memperbaiki kurikulum perkuliahan dengan menekankan pada kompetensi guru yang berkualitas; 2) Memasukkan program pembekalan lapangan dalam proses belajar-mengajar selama jangka waktu 1 tahun di sekolah-sekolah yang membutuhkan tenaga pengajar sebagai wahana pembentukan tenaga guru yang profesional.

Kemudian dari pemerintah diharapkan dapat melaksanakan program penempatan guru di wilayah-wilayah pelosok Indonesia yang masih banyak mnembutuhkan guru dengan memberikan gaji yang sesuai, oleh karena itu anggaran pendidikan perlu ditingkatkan. Peningkatan anggaran ini tidak hanya untuk mensejahterakan guru sebagai tenaga pengajar, melainkan juga untuk mengembangkan program-program untuk meningkatkan mutu pendidikan. Semua usaha ini jika dapat dilaksanakan secara sinergis maka sedikit demi sedikit akan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang selama ini masih merupakan suatu impian masyarakat Indonesia pada umumnya.
E-mail Pengirim: gobai_yosep@yahoo.com
Tanggal: 15 01 2005


Nama: enik
Dari: surabaya
Saya: Mohon Pilih
Aspirasi / Informasi: pendidikan di universitas berlabelkan agama islam sekarang telah kehilangan akhlaknya, banyak sekali kita temukan mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi Islam tetapi tidak mencerminkan mahasiswa yang Islami, kendala apa yang menjadikan mahasiswa seperti itu, apakah sistem pendidikan yang salah ataukah zaman yang telah berubah sehingga menjadikan moral anak bangsa rusak??? barang siapa saja yang bisa menjawab mohon kirim email ke alamat saya, trimakasih
E-mail Pengirim: gilayes@yahoo.com

Terima kasih Enik Yth,
Siapa bilang bahwa "moral anak bangsa rusak???"
Mungkin mereka hanya berbeda saja!

Kalau kita melihat moral generasi yang "dewasa", mereka sudah membentukkan negara yang termasuk yang paling berkorupsi di dunia, dengan ekonomi yang bankrut. Anak kita belum tentu dapat bekerja kalau tidak punya duit untuk masuk pekerjaan atau punya koneksi. Bagaimana mereka dapat menghormati orangtuanya yang kebanyakan masih mau melayani dan menghormati koruptor, daripada memberantas korupsi dan membuat contoh untuk anak kita yang lebih baik. Saya kira bahwa yang sudah dewasa adalah lebih rusak, dan bertanggungjawab untuk keadaan negara dan anak kita.

Anak kita belum berdosa, dibanding dengan generasi orangtuanya. Ayo, bebaskan negara kita dari KKN dan memberi anak kita kesempatan untuk berkembang di negara yang lebih jujur, tertib dan aman. Anak-anak kita memang belajar moral dari lingkungannya, bukan dari sekolah. Kalau mereka terus melihat bahwa orang yang jujur tidak punya masa depan, tetapi yang berkorupsi dan tidak jujur terus menang di negara kita, bagaimana kita dapat berharap mereka "bermoral".

Kami wajib untuk berharap anak-anak kita berbeda dengan generasi sebelumnya, kita sudah menyaksikan hasilnya dari generasi sebelumnya! Mencoba mengerti mereka kalau mereka tidak ingin seperti kita, daripada menyalahkan saja. Memang negara kita harus merubah!

Salam Hormat dan Selamat Berjuang!
Phillip R. (Webmaster)

Tanggal: 01-06-2005


Saran Anda Terhadap Saran Di Atas

Nama: ucok
Dari: padang
Saya: Mahasiswa padang
Topik: kbk Tanggal Sarannya: 11februaru2005
Saran: memang saya setuju dengan saran adek yang smp diatas, karena kurikulum kbk pada dasarnya adalah pengadopsian dari sistem pendidikan barat yang tidak sesuai dengan kultur budaya bangsa indonesia.seharusnya pendidikan yang harus dikembangkan di negara kita adalah pendidikan yang terpadu antara umum dan agama dengan memakai pola kuikulum berbasisi spritual yang menitik beratkan pada akhlak dan kompetensi murid. kalau kbk itu merupakan bagian dari aliran behaviourisme yang kurang cocok diterapkan terhadap perkembangan anak didik, baik dari segi fisik maupun psikis.
E-mail Pengirim: ldh_ahmad

Terima kasih Ucok
RE: "kbk pada dasarnya adalah pengadopsian dari sistem pendidikan barat yang tidak sesuai dengan kultur budaya bangsa indonesia".
Kalau begitu, mengapa siswa-siswi di Indonesia yang ingin pendidikan bermutu terus mencari kesempatan belajar di negara barat? Mengapa mereka dapat berhasil di negara barat?

Sebenarnya, saya kira KBK sangat cocok, dan sekolah yang melaksanakan KBK "dengan baik" sangat menguntungkan anaknya. Membaca saran-saran dari guru-guru di Indonesia saja di SuaraKita.Com. Masalanya begini, masih hanya sedikit guru, apa lagi siswa yang mengerti KBK. PAKEM saja (Pengajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan) jarang dilaksanakan dengan baik di kelas. Negara ini harus mulai meningkatkan mutu pendidikan dan kemampuan masyarakatnya atau tetap mundur seperti sekarang.
Salam Hormat dan Selamat Berjuang
Webmaster.


Nama: rico asmadi
Dari: kerinci jambi
Saya: Mahasiswa universitas batanghari jambi
Topik: evaluasi Tanggal Sarannya: 4 mei 2005
Saran: pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang dikelola oleh swasta karena manajemen nya bagus. selama ini pendidikan kita terlalu banyak di campuri loeh pemerintah ,khususnya pemerintah pusat,pendidikan kita selama ini hanya seromonial saja ,tampa peduli dengan kualitas.evaluasi yang dilakukan selama ini selalu berubah -ubah tampa arah yang jelas.tolong evaluasi pendidikan kita di pikirkan secara mapan,untuk menuju indonesia yang berpendidikan . thanks
E-mail Pengirim: rico_bento@yahoo.com


Nama: M. Isnaeni rodi
Dari: Blitar Jawa Timur
Saya: Guru Indonesia
Topik: Manajemen Pendidikan Tanggal Sarannya: 02-06-2005
Saran: Mestinya setiap mahasiswa dapat memiliki kesempatan akses luas seperti ini.
E-mail Pengirim: Rodi@centil.com


Nama: ratri
Dari: bandung?jawa barat
Saya: Mahasiswi upi
Topik: Tanggal Sarannya: 5 sep
Saran: memang saya sangat sependapat dengan apa yang dikeluhkan. karena mengingat adanya tingkat kecerdasan yang berbeda-beda dari setiap peserta didik maka menurut saya sistem Kbk ini menjadi kurang efektif. dan mengenai kualitas guru di negara kita memang tidak dapat kita samakan dengan kualitas guru di luar negeri, karena dari tingkat pendidikannya pun sudah sangat jauh berbeda. dalam hal kreatifitas pun sangat mempengaruhi.

dan menurut saya hendaknya sistem KBK itu diperbaharui lagi, yaitu misalnya guru memberikan materi pelajaran lau siswa disuruh mencari melalui berbagai media mengenai topik yang sedang dibahas. nah, dengan cara tersebut maka sistem kbk dapat terlaksanakn tanpa mengabaikan tanggung jawab guru sebagai pemberi informasi.
E-mail Pengirim: ninjahatori26@yahoo.com


Nama: Puspita Sari
Dari: JAKARTA
Saya: Mahasiswi DIII AKTUARIA BPLK DEPKEU
Topik: Tanggal Sarannya: 14-09-2005
Saran: bERJUANG SAYA MAU TANYA, BAGAIMANA CARA MAHASISWA DARI D3 (SEKOLAH TINGGI SWASTA) INGIN MENJADI GURU, KATANYA TEMAN: DNG AKTA IV, KLO DI UNJ ADA GA YA, UNTUK JURUSAN BAHASA INGGRIS. KEMANA HARUS SAYA HUBUNGI; YANG TAU DETAIL TENTANG KASUS INI. TERIMA KASIH. (LEBIH BAIK BILA BALAS KE E-MAIL)
E-mail Pengirim: sari_adore_id@yahoo.com


KLIPPING-KLIPPING
[ Mutu Pendidikan ] [ Biaya Pendidikan ] [ Korupsi & Pendidikan ]
[ HOME ]


Print Halaman Ini

Aspirasi Pendidikan Kita
Menulis Aspirasi Anda
Kembali ke Halamam Utama Menulis Saran Anda
Korupsi dan Pendidikan
Mengirim Saran Anda - Klik di Salah Satu Situs di Atas

Info mengenai Webmaster

Mengirim Saran Mengenai Topik
Yang Dibahas Di Halaman Ini

Nama Anda:

Kota / Propinsi:

Saya di

Topik (dari atas):

Tanggal Sarannya:

Saran Anda:

E-Mail Anda:

Mohon Klik Sekali Saja!